Tampilkan postingan dengan label Contoh makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Dasar pengukuran psikologis

Diposting oleh Suka Suka Saya di 17.34 1 komentar
dasar pengukuran psikologis adalah dasar cara mengukur psikologis seseorang. bagaimana anda mengukur psikologis anda. disini cara anda mengukur bagaimana psikologis anda. baca di bawah ini.


BAB I
PEMBAHASAN

Segala sesuatu yang dipersoalkan dalam psikologi termasuk aspek-aspek psikologis atau atribut-atribut psikologis itu bersifat kualitatif. Atribut-atribut psikologis itu tidak mempunyai eksistensi riil, sehingga tidak dapat dikaji atau diketahui secara langsung, melainkan hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui gejalanya atau tampilannya(manifestasinya). Didalam tampilannya atau manifestasi itu sengaja ditimbulkan lalu dikuantifikasikan. Pembahasan lebih lanjutnya adalah:

A. KUANTIFIKASI ATRIBUT PSIKOLOGI
Contoh atribut-atribut psikologis yaitu mottivasi, minat, intelegensi, bakat, kemampuan bahasa inggris dan lain-lain kesemuanya itu adalah hal-hal yang bersifat kualitatif. Dalam suatu pengukuran hal-hal yang bersifat kualitatif itu dikuantifikasikann sehingga diperoleh berbagai keuntungan dan juga beberapa keterbatasan.
1. Keuntungan dan keterbatasan pendekatan kuantitatif
Keuntungan Pendekatan Kuantitatif
Dengan penerapan pendekatan kuantitatif, maka atribut-atribut psikologi yang aslinya bersifat kualitatif dikuantifikasikan, dan dengan cara ini diperoleh keuntungan-keutungan sebagai berikut :
1. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan maka dia dapat dideskripsikan dengan jelas dan tepat, dan dengan demikian salah satu fungsi ilmu pengetahuan, yaitu mendeskripsikan fenomena dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Dengan pendekatan kuantitatif itu ilmuan dipaksa mengikuti tata pikir dan tata kerja yang tertib, konsisiten, dan terbuka hal ini diperlukan guna memajukan ilmu pengetahuan baik dari segi teori maupun pengamalannya.
3. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan, mungkin akan dianalisis dengan metode matematis(statistik) yang dalam ilmu pengetahuan diakui sebagai metode yang sangat kuat
4. Ilmuan dapat membuat prediksi mengenai bidang garapannya.
5. Derajat komunikabilitas menjadi tinggi, karena sebagai kegiatan yang terbuka untuk umum setiap pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ilmuan harus dapat diuji ulang oleh ilmuan lain, dan hal ini sangat dipermudah kalau hal-hal yang dipersoalkan disajikan secara kuantitatif.
Keterbatasan pendekatan kuantitatif
Disamping keuntungan-keuntungan yang dimiliki, pendekatan kuantitatif jugan mempunyai keterbatasan, diantara keterbatasan utamanya adalah bahwa hasil kuantifikasi itu tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Data awal berupa data kuantitatif yang kemudian diolah, dianalisis dan diatur menurut kehendak ilmuan, jadi apabila data awalnya adalah data yang tidak mencerminkan data yang sebenarnya maka hasil analisis dan kesimpulannya akan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan seberapa besar penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya itu tidak dapat dideteksi.

2. Model Teoritis
Proses kuantifikasi harus bisa menjamin data yang dihasilkan mencerminkan keadaan yang sebenarnya, untuk itu sangat diperlukan suatu alat ukur yang dapat menjamin tercapainya kesesuaian antara data kauntitatif dan keadaan psikologis atribut psikologi yang diwakilinya. Didalam alat-alat psikologi yang penting untuk proses kuantifikasi itu, tersedia modelnteoritis ynag mendasaria perkembangan alat ukur psikologis itu. Dalam perkembangan model teoritisnya data yang digunakan terbatas pada : data hasil pengukuran hasil belajar, menggunakan alat non projektif, diselenggarakan secara kelompok, dan menggunakan pendekatan acuan norma.
a. Data pengukuran hasil belajar
Hasil belajar termasuk dalam kelompok atribut kognitif, yang ”Respon” hasil pengukuranya tergolong pendapat, yaitu respon yang dinyatakan benar apa salah.


b. Alat ukur non projektif
Pengukuran hasil belajar tidak menuntut terjadinya mekanisme projeksi, oleh karena itu materi alat ukurnya adalah meteri non projektif
c. Penyelenggarakn secara kelompok
data yang dikumpulkan diperoleh dari sekelompok subjek yang diperlukan secara sama. Karena sifatnya yang demikian maka data yang diperoleh dapat cukup banyak.
d. Pendekatan acuan norma
Hasil belajar suatu populasi subjek diasumsikan berdistribusi normal. Dan ini cocok dengan pendekatan acuan normal.dalam pendekatan ini tujuan pengukuran adalah untuk menentukan kedudukan relative masing-masing subjek didalam kelompoknya. Dengan pendekatan acuan normal ini diperoleh dua keuntungan penting dalam pengukuran psikologis, yaitu :
• Dapat diterapkan teori probabilitas
• Diperolehnya dasar untuk menyatakan adanya hubungan reclinear antara besaran hal ynag diukur dengan skor hasil pengukuran.

Data yang seperti diatas itulah yang digunakan untuk menyusun model teoritis pengukuran psikologis. Dewasa ini ada dua macam teori tentang pengukuran psikologis itu, yaitu teori tes klasik dan teoir tes modern

B. TES KLASIK
Teory tes klasik disebut demiokian, karena unsure-unsur teory itu sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama, namun tetap bertahan, lebih-lebih kalau dilihat dari arah penerapannya diberbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu teory ini dianggap sebagai hasil karya klasik teory tes klasik tidak tersusun sekali jadi, melainkan berkembang sedikit demi sedikit melalui unsure-unsur yang kemudian secara akumulatif merupakan bangunan teory yang utuh. Inti teory tes klasik itu berupa asumsi-asumsi yang dirumuskan secara sistematis. Modelnya disebut model skor murni(true skor model). Ada 7 macam asumsi dalam teory tes klasik itu.

1. Asumsi teory tes klasik
Asumsi 1: Xt = X. + Xe
Skor perolehan(Xt) terdiri dari skor murni (X.) dan skor kesalahan pengukuran (Xe).jadi skor yang diperoleh dari suatu pengukuran pada uumnya tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Skor perolehan pada umumnya meleset dari menampilkan secara tepat besaran atribut yang diukur. Melesetnya skor perolehan dari keadaan yang sebenarnya (yaitu skor murni X.)merupakan kesalahan pengukuran (error of measurement)
Asumsi 2 :ε (Xt) = X.
Nilai harapan skor diperoleh = ε (Xt) sama dengan skor murni. Asumsi 2 ini merupakan definisi skor murni (Xt). Skor murni itu adalah nilai rata-rata skor perolehan teoritis sekiranya dilakukan pengukuran yang berulang –ulang (sampai tak terhinggga) terhasdap seseorang dengan menggunakan alat ukur yang sama. Syarat pokok dalam pengukuran yang satu harus bebas dari hasil pengukuran yang lain .
Asumsi 3 Ρx●xe=0
Skor murni dan skor kesalahan yang divapai oleh suatu populasi subyek pada sautu tes tidak berkolerasi satu sama lain. jadi jadi tidak ada hubungan sistematik antara skor murni dan skor kesalahan. Subyek yang tinggi skor murninnya tidak mesti mempunyai skor kesalahan (baik positif maupun negative) yang lebih tinggi disbanding subyek yang rendah skor murninnya.
Asumsi 4 ρXe1 Xe2=0
Skor-skor kesalahan pada 2 tes (yang dimaksud untuk mengukur hal yang sama ) tidak saling berkorelasi. Jika seseorang mempunyai skor kesalahan positif pada tes 1, maka skor kesalahan pada tes 2 tidak tentu positif. Asumsi ini akan tidak terpenuhi sekiranya skor perolehan dipengaruhio kondisi testing.
Asumsi 5: ρXe1 X.2=0
Jika ada 2 tes yang dimaksudkan untuk pengukuran atribut yang sama, maka skor-skor kesalahan pada tes 1(Xe1) tidak berkorelasi dengan skor-skor murni pada tes 2(X.1)
Asumsi 6
Jika dua perangkat tes (yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama) mempunya skor perolehan Xt dan Xt’ yang memenuhi asumsi –asumsi 1 sampai 5, dan jika setiap populasi subyek X. =X.’ dan σe² = σe’’², maka kedua tes itu disebut tes pararel. Jadi dua perangkat tes akan merupakan tes perarel kalu skor –skor suatu populasi yang menempuh kedua tes itu skor murninya sama (X. =X.)dan varian skor kesalahannya sama σe² = σe’’²
Asumsi 7
Jika dua perangkat tes (yang dimaksud untuk atribut yang sama) mempunyai skor-skor perolehanX11 dan X12 yang subyek X.=X.2+C12 adalah suatu konstanta, maka kedua perangkat tes itu disebut tes-tes yang setara (equivalen test)
2. Kesimpulan-kesimpulan teory tes klasik
Teory tes klasik, yang dirumuskan dalam bentuk asumsi-asumsi seperti yang telah disajikan dimuka, memungkinkan penarikan atau penjabaran sejumlah kesimpulan. Hanya sebagaian saja dari kesimpulan-kesimpulan itu yang disajikan disini, dipilih terutama yang berkaitan langsung dengan pengembangan alat ukur psikologis.
Kesimpulan 1: ε = (Xe)=0
Nilai harapan skor-skor kesalahan seorang subyek = 0. jika seseorang dites denga suatu tes yang sam berulang-ulang (sampai tidak terthingga) maka rata-rata skor-skor kesalahannya akan sama dengan 0. karena skor-skor kesalahan terjadi secara acak, maka yang meleset ke atas dan meleset kebawah akan saling meniadakan satiu sama lain.
Kesimpulan 2 : ε = (XeX.)=0
Nilai harapan hasil skor-skor kesalahan dan skor-skor murni sama dengan 0. kovarians antara skor kesalahan dan skor murni, yang sama dengan ε (XeX.) ε (Xe) ε(X.) juga sama dengan 0
Kesimpulan 3 :σ = σ + σ
Varians skor-skor perolehan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan. Jika skor perolehan, skor murni, dan skor kesalahan suatu populasi pada suatu tes diperoleh, maka varians skor-skor perolehan (yang sering juga disebut varians total )akan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan.
Kesimpulan 4
Kuadrat korelasi antara skor-skor perolehan san skor-skor murni sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini kemudian menjadi sangat penting dalam pembicaraan tentang reabilitas tes.
Kesimpulan 5
Kuadrat korelai antara skor-skor perolehan dengan skor-skor murni sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini sebenarnya membicarakan hal yang sama dengan yang dibicarakan kesimpulan 4.
Kesimpulan 6
Korelais antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan skor-skor perolehan ditentukan berdasarkan tes yang manapun.
Kesimpulan 7
Korelasi antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan.
Demikianlah beberapa kesimpulan yang ditarik atau dijabarkan dari teory tes klasik. Walau diakui teory tes klasikmengandung keterbatasan, namun dalam kenyataananya teory ini masih bertahan sebagai dasar pengembangan tes dimana-mana.

C. Teori Tes Modern
Kelemahan utama teori tes klasik adalah bahwa alat ukur yang disusun berdasarkan teori tes klasik itu terikat kepada semua sampel (sample bound). Jika seperangkat tes diberikan kepada kelompok subyek yang rendah kemapuanya akan merupakan tes yang sukar, dan apabila diberikan kelompok subyek yang tinggi kemapuanya akan merupakan tes yang mudah. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan para ahli adalah untuk membebaskan alat ukur itu dari keterikatanya kepada sampel (sample-free); seperti diketahui alat ukur fisik, misalnya alat ukur panjang, alat ukur berat, semuanya tidak terikat kepada sampel.
1. Dasar Pikiran pada Teori Tes Modern
Teori tes yang mendasarkan diri pada sifat-sifat atau kemapuan yang laten, yang mendasari kinerja atau respon subyek terhadap butir soal tertentu. Karena itu teori ini disebut mengunakan model sifat laten. Nama yang lebih popular adalah teori respon butir soal atau item respon theory (IRT). Teori respon butir soal itu berdasarkan dua postulat, yaitu:
a) Kinerja seorang subyek pada butir soal dapat diprediksikan dari suatu perangkat factor-faktor yang disebut sifat-sifat, atau sifat-sifat laten, atau kemapuan
b) Hubungan antara kinerja subyek pada suatu butir soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja itu dapat di deskripsikan dengan fungsi meningkat secara monotonic yang disebut karakteristik butir soal atau kurve karakteristik butir soal.
2. Asumsi-Asumsi Pada Teori Tes Modern
Suatu asumsi-asumsi yang umum digunakan secara luas oleh model-model IRT ialah bahwa hanya satu kemampuan yang diukur oleh butir-butir soal yang merupakan seperangkat tes. Hal ini disebut asumsi unidimensionalitas. Suatu konsep lain yang langsung berkaitann dengan unidimensionalitas adalah ketidaktergantungan local. Asumsi lain yang dibuat dalam semua model IRT adalah bahwa fungsi karakteristik butir soal tertentu merefleksikan butir soal tertentu merefleksikan hubungan yang sebenarnya antara variable-variable yang tidak dapat di observasi dengan variable-variabel yang dapat di observasi yaitu respon terhadap butir soal.
3. Model-model Yang Populer Dalam Teori Respons Butir Soal
Secara teori dapat disusun model-model IRT yang sangat besar jumlahnya, namun didalam praktek hanya tiga model yang popular, yaitu:
a) Model logistic atau parameter
b) Model logistic dua parameter
c) Model logistic tiga parameter
D. Reliabilitas Alat Ukur
Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh para subyek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setaara pada kondisi yang berbeda. Dalam arti yang lebh luas reliabilitas adalah alat ukur menunjuk kepada sejauh mana perbedaan-perbedaan skor perolehan itu mencerminkan perbedaan-perbedaan atribut yang sebenarnya. Hal inilah yang menuntun kepada definisi dasar reliabilitas tes, yaitu:
σ.2

σ t 2
Reliabilitas tes adalah proporsi varians skor perolehan yang merupakan varians skor murni, jadi kembali kepada uraian terdahulu, bahwa Xt = X. + Xe skor perolehan terdiri dari skor murni dan kekeliruan pengukuran serta, σ t2 = σ.2 + σe2 , varians skor perolehan (varians total) σ .2 ditambah varians kekeliruan pengukuran σe2. Karena realibilitas alat ukur itu berkenaan dengan derajat konsistensi atau kesamaan antara dua perangkat skor, maka dia dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi (r).
Estimasi Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur yang juga menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran tak dapat ditentukan dengan pasti, melainkan hanya dapat diestimasi. Ada tiga pendekatan dala mengestimasi reliabilitas alat ukur itu, yaitu (a) pendekatan tes ulang, (b) pendekatan dengan tes paralel, dan (c) pendekatan satu kali pengukuran.
1. Pendekatan Tes Ulang
Suatu perangkat tes diberikan kepada sekelompok subjek dua kali, dengan menghitung korelasi antara skor pada testing I dan skor pada testing II, jadi rtt = rI.II. Pendekatan ini secara teori baik, namun didalam praktek mengandung kelemahan, yaitu bahwa kondisi subjek pada testing II tidak lagi sama dengan kondisi subjek pada testing I, karena terjadinya proses belajar, pengalaman, perubahan motivasi dan sebagainya. Karena itu pada kebanyakan penelitian pendekatan ini tidak digunakan. Pendekatan tes ulang sangat sesuai jika yang dijadikan objek pengukuran adalah keterampilan fisik.
2. Pendekatan dengan Tes Paralel
Dua perangkat tes yang paralel, misalnya perangkat A dan perangkat B diberikan kepada sekoelompok subjek. Reliabilitas tes dicari dengan menghitung korelasi antara skor pada perangkat A dan skor pada perangkat B, jadi rtt = rAB. Keterbatasan utama pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua perangkat tes yang paralel. Seperti telah diuraikan pada teori tes klasik, bahwa dua perangkat tes akan merupakan dua perangkat tes yang paralel kalau memenuhi sejumlah persyaratan (asumsi). Karena itu dalam praktek pendekatan ini juga tidak banyak digunakan.
3. Pendekatan Satu Kali Pengukuran
Seperangkat tes diberikan kepada sekelompopk subjek satu kali, lalu dengan cara terrtentu dihitung setimasi reliabilitas tes tersebut. Pendekatan pengukuran satu kali ini dapat menghindarkan diri dari kesulitan yang timbul dari pendekatan dengan pengukuran ulang maupun pendekaatan dengan tes paralel, oleh karena itu pendekatan ini banyak digunakan. Teknik-teknik estimasi reliabilitas yang akan disajikan berikut ini semuanya menggunakan pendekaatan pengukuran satu kali.

Berbagai Teknik Estimasi Reliabilitas
Seperti telah dikemukakan, definisi dasar reliabilitas adalah
σ.2

σ t 2
karena σ t2 = σ.2 + σe2, maka persamaan mengenai reliabilitas itu dapat diubah menjadi

σt2 – σe2

σ t 2
Berbagai rumus yang dikemukakan oleh para ahli psikometri justru mencari estimasi mengenai varians kekeliruan pengukuran σe2 itu. Ada tujuh teknik yang populer dan banyak digunakan untuk mengestimasi reliabilitas itu, yaitu:
1. Teknik Belah Dua
Suatu perangkat tes diberikan kepada kelompok subjek satu kali. Teknik belah dua seriang disebut dengan teknik gasal-genap. Karena kelompok gasal ( ) dijadikan satu dan genap dijadikan satu juga. Estimasi reliabilitas dicari dengan menghitung korelasi skor pada belahan pertama dengan skor pada belahan kedua, . Rumus korelasi


Secara umum dapat dikatakan bahwa makin panjang tes, akan makin tinggi koefisien reliabilitasnya, asalkan soal-soal yan dicakup sama mutunya. Oleh karena itulah rumus spearman-brown itu juga dikenal dengan rumus ramalan.


Keterangan :
koefisien reliabitas tes yang baru
n = berapa kali panjang tes yang baru itu dari panjang tes yang telah ada
koefisien reliabilitas tes yang telah ada
2. Rumus Rulon
Rulon (1939) mempersoalkan reliabilitas tes yang telah dibelah menjadi 2 belahan. Jika sekiranya kedua belahan tes itu setara maka secara teori skor seseorang pada perangkat belahan pertama dan skor pada perangkat belahan kedua akan sama. Jika skor-skor pada kedua perangkat itu tidak sama, maka itu terjadi karena kesalahan/ kekeliruan pengukuran. Rumus realibilitas tes sebagai berikut :
Keterangan :
= koefisien reliabilitas
= varian perbedaan skor pada kedua belahan tes (yang dianggap sebagai varians kekeliruan pengukuran
= varians total (skor perolehan)
3. Rumus Flanagan
Flanagan menganggap bahwa varians-varians pada perangkat-perangkat belahan tes yang merupakan varians kekeliruan pengukuran.


4. Teknik K
Dengan menggunakan statistic soal mereka mengembangkan teknik-teknik untuk mengestimasi reliabilitas tes yang diterbitkan di psychometrika. Rumus yang mereka ajukan lazimnya di beri momor seperti halnya rumus ini.



5. Teknik K
Rumus K hanya sedikit berbeda dari rumus K . Estimasi varians kekeliruan pengukuran dicari melalui produk rata-rata p kali rata-rata q di kali dengan banyaknya soal, jadi

6. Teknik analisi varians
Dalam karya hoyt itu varians total dianalisis menjadi proposi yang berasal dari peserta tes, proporsi yang berasal dari soal-soal tes, dan sisanya. Rumus :
7. Koefisien alpha ( )



Rabu, 20 April 2011

makalah anak berkebutuhan khusus

Diposting oleh Suka Suka Saya di 11.34 0 komentar
makalah anak berkebutuhan khusus adalah salah satu matakuliah di BK. dimana anak berkebutuhan khusus memiliki banyak masalah tetapi banyak yang tidak mengerti apa itu masalah mereka sebenanrnya. untuk mengetahui tentang anak berkebutuhan khusus. silahkan baca ini,,,

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. stilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda. Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:

·         Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.

·         Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.

·         Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari

·         impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan berbeda dalam berbagai dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan dan potensinya secara maksimal.

Jadi kalau melihat definisi di atas kita lihat banyak sekali yang tercakup di dalamnya, dari mulai buta, tuli, gangguan bicara, cacat tubuh (seperti: celebral palsy, pholio), retardasi mental, down syndrom, autisma dan psektrum, ADD/ADHD(Attention deficit disorder/Attention deficit hyperactiivity disorder), LD/kesulitan belajar, gangguan emosional, anak dengan intelegensia tinggi/gifted, dapat dikategorikan anak dengan kebutuhan khusus, karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga profesional. Pada pendidikan anak dengan kebutuhan khusus misalnya sudah mulai berubahnya pendekatan yang sifatnya Segregatif (sengaja memisahkan, dimana mempunyai kelemahan yaitu isolasi dan hilangnya kesempatan berbagi dengan teman sebaya dan belajar satu sama laintentang perilaku dan keterampilan) menuju ke Integratif (menggabungkan dengan anak-anak normal) dan kemudian ke inklusif. Pada pendekatan inklusif ini bukannya lagi anak dengan kebutuhan khusus yang harus menyesuaikan dengan lingkungan sekolah, namun sudah mulai menjadi “mengubah sekolah atau sistem agar sesuai dengan anak dengan kebutuhan khusus” dengan kata lain, “adapting the system not the children”.



Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus

Konsep anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa (exceptional children). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.

Yang termasuk kedalam anak berkebutuhan khusus antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, anak berkebutuhan khusus memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.

A. Tunanetra

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).

B. Tunarungu

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB), Gangguan pendengaran ringan(41-55dB), Gangguan pendengaran sedang(56-70dB), Gangguan pendengaran berat(71-90dB), Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB). Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.



C. Tunagrahita

Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ. Tunagrahita ringan (IQ : 51-70), Tunagrahita sedang (IQ : 36-51), Tunagrahita berat (IQ : 20-35), Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20). Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.

D. Tunadaksa

Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

E. Tunalaras

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.



F. Kesulitan belajar

Adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat mempengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.
jangan lupa membaca makalah Bimbingan kelompok

Makalah bimbingan kelompok

Diposting oleh Suka Suka Saya di 11.25 0 komentar
bimbingan kelompok adalah proses konseling untuk membantu siswa dalam masalah yang ada disekitar siswa. bimbingan kelompok hanya berkisar antara 5-8 orang. berhasil tidaknya proses bimbingan kelompok terletak pada konselor.

A. Konsep Seputar Bimbingan Kelompok.
Bimbingan berasal dari kata bahasa Inggris yaitu “Guidance” yang atinya menunjukkan, menuntun, atau mengemudikan (Shertzer dan Stone, 1996). Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005).
Berdasarkan definisi-definisi dari para ahli tersebut, dapat diambil beberapa karakteristik bimbingan, yakni :
a. Bimbingan adalah usaha pemberian bantuan.
b. Bimbingan diberikan pada orang-orang dari berbagai rentang usia.
c. Bimbingan diberikan oleh tenaga ahli
d. Bimbingan bertujuan untuk perbaikan kehidupan oarng yang dibimbing, yaitu untuk : (1) mengatur kehidupan sendiri, (2)mengembangkan atau memperluas pandangan, (3)menetapkan pilihan , (4) mengambil keputusan, (5) memikul beban kehidupan (6) menyesuaikan diri (7)mengembangkan kemampuan.
e. Bimbingan diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi.
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruhan.
Bimbingan yakni suatu upaya mefasilitasi individu (siswa) agar memperoleh pemahaman dan pengarahan diri yang di perlukan untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat, sehingga akhirnya ia atau mereka dapat mengembangkan dirinya secara optimal.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan bimbingan dapat dilakukan secara individual dan kelompok. Dalam situasi tertentu dimana suatu masalah tidak dapat ditangani secara individiual, situasi kelompok dapat dimanfaatkan untuk menyelenggarakan layanan bimbingan bagi siswa. Yang menjadi sasaran dalam bimbingan kelompok pada hakikatnya sama dengan sasaran dalam bimbingan pada umumnya yakni individu. Individu yang dimaksud disini bisa berupa individu sebagai bagian dari kelompok, atau semua individu yang tergabung dalam kelompok. Bimbingan kelompok adalah suatu proses pemeberian bantuan kepada individu melalui suasana kelompok yang setiap anggota untuk belajar berpartisipasi aktif dan berbagai pengalaman dalam upaya pengembangan wawasan, sikap, dan atau keterampilan yang diperlukan dalam upaya mencegah timbulnya masalah atau dalam upaya pengembangan pribadi.
Ada beberapa keuntungan yang mendukung diselenggarakannya bimbingan kelompok, yakni sebagai berikut (M. Surya dan Rochman Natawijaya,1986 :105-106):
a. Bimbingan kelompok lebih bersifat efektif dan efisien.
b. Bimbingan kelompok dapat memanfaatkan pengaruh – pengaruh seseorang atau beberapa orang individu terhadap anggota lainnya.
c. Dalam bimbingan kelompok dapat terjadi saling tukar pengalaman diantara para anggotanya yang dapat berpengaruh terhadap tingkah laku individu.
d. Bimbingan kelompok dapat merupakan awal dari konseling individual,sehingga bimbingan kelompok dimanfaatkan untuk mempersiapkan individu yang akan mendapat layanan konseling.
e. Bimbingan kelompok dapat menjadi pelengkap dari teknik konseling individual,dalam arti sebagai layanan tindak lanjut dari konseling individual.
f. Bagi kasus – kasus tertentu,bimbingan kelompok dapat digunakan sebagai subsituasi,yakni dilaksanakan karena kasus tidak dapat ditangani dengan teknik lain.
g. Dalam bimbingan kelompok terdapat kesempatan untuk menyegarkan watak atau pikiran.
Bimbingan kelompok memiliki sifat yang beragam, mulai dari yang bersifat informatif dan terapeutik. Praktek bimbingan klompok dilakukan dengan diskusi, simulasi, latihan, karyawisata, homeroom program, dan sosiodrama.
Untuk mempermudah konselor untuk membedakan bimbingan kelompok dan konseling kelompok seperti di bawah ini :
Aspek Bimbingan kelompok Konseling kelompok
Tujuan dan Fungsi • Pencegahan masalah
• Pengembangan pribadi • Pemecahan masalah pribadi
• Pencegahan masalah
• Pengembangan pribadi
Jumlah anggota Lebih dari 2 bisa sampai 30 orang 2 - 7 orang
Karakteristik anggota Heterogen – hemogen Hemogen
Bentuk kegiatan Permaianan- intruksional Transaksional
Peran pembimbing Fasilitator-tutor Fasilitator- terapis
Peran anggota Aktif membahas topik yang relevan dan bermanfaat bagi pencegahan masalah atau pengembangan pribadi Aktif membahas masalah pribadi serta berbagi dalam memecahkan masalah orang lain atau dalam upaya pengembangan pribadi anggota
Suasana interaksi • Interaksi multi arah
• Aktif bernuansa intelektual, pencerahan dan pendalaman • Interaksi multi arah
• Aktif bernuansa intelektual, afeksional dan emosional
Teknik yang digunakan Sosio-edukasional Psiko-edukasional
Sifat dan materi pembicaraan • Masalah umum (melebar)
• Tidak memuat rahasia pribadi • Masalah pribadi
• Memuat rahasia pribadi
Lama dan frekuensi kegiatan Sesuai dengan tingkat pemahaman anggota tentang topik masalah Sesuai dengan tingkat ketuntasan pemecahan maslah individual anggota
Evaluasi Keterlibatan, pemahaman isi dan dampak terhadap anggota kelompok Keterlibatan, kedalaman dan dampak terhadap ketuntasan pemecahan masalah individual anggota

B. Latihan Sebagai Metode Dan Teknik Bimbingan Kelompok.
Salah satu metode atau teknik dalam bimbingan kelompok dapat diorentasikan pda aktivitas – aktivitas yang terstruktur,perencana dan terukur baik dalam hal durasi,materi dan resikonya. Metode atau teknik yang melibatkan aktivitas semacam itu disebut latihan(exercise). Teknik latihan ini mencakup beberapa teknik lain dalam bimbingan kelompok seperti diskusi,simulasi dan sosiogram. Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda – beda mengenai penggunaan latihan dalam situasi kelompok,ada yang mendukung ada juga yang menentang. Carl Rogers (1970) merupakan salah satu yang tidak mendukung penggunaan latihan dalam situasi pokok,ia mengemukakan peran konselor yang tak terstruktur.
Ada tujuh alasan untuk menggunakan latihan dalam kelompok,diantaranya:
1. Mengembangkan diskusi dan partisipasi
anggota kelompok dengan cara memberikan mereka pengalaman umum.latihan dapat menjadi cara untuk menstimulasi minat dan energi anggota kelompok.

2. Memfokuskan kelompok
Suatu latihan dapat digunakan untuk memfokuskan anggota pada suatu isu atau topik yang umum.
3. Mengangkat suatu fokus
Konselor bisa juga menggunakan latihan untuk mengangkat suatu fokus saat ia merasa sebuah topik baru dibutuhkan.
4. Memberi kesempatan untuk pembelajaran eksperiensial
Alasan keempat dalam penggunaan latihan adalah untuk memberi suatu pendekatan alternatif dalam mengeksplorasi persoalan – persoalan. Hal ini dapat dilakukan melalui diskusi sederhana. Latihan juga berguna membuat anggota menindak lanjuti tema yang didiskusikan dalam kelompok daripada hanya membicarakannya.
5. Memberi konselor informasi yang berguna
Latihan berguna untuk mendapatkan informasi dari anggota kelompok yang akan digunakan trainer dalam diskusi. Dalam hal ini latihan rounds seringkali digunakan.
6. Memberikan kesenangan dan relaksasi
Latihan tertentu dapat melonggarkan suasana dalam kelompok melalui canda tawa dan relaksasai.Misalnya latihan lempar topeng, pijat kelompok dan sebagainya.
Latihan ini bisa jadi sangat berguna saat kelompok nampaknya membutuhkan perubahan suasana atau keadaan
7. Meningkatkan level kenyamanan
Latihan dapat digunakan untuk meningkatkan level kenyamanan dalam kelompok. Banyak anggota mengalami kecemasan selama sesi awal dalam kelompok. Latihan untuk meningkatkan keakraban seringkali menambah rasa nyaman diantara anggota kelompok.
Jenis-jenis latihan antara lain :
a. Menulis(Written).
Latihan menulis terdiri atas aktivitas tulis menulis dfimana anggota dapat menulis daftar, pertanyaan, mengisi esai, menuliskan reaksi mereka atau menandai dengan tanda cek hal-hal seputar isu atau topik yang dibahas.
b. Gerak (Movement ).
Latihan gerak mensyaratkan peserta untuk melakukan suatu hal yang bersifat fisikal, karenanya pesertanya harus bergerak.
c. Lingkaran (rounds ).
Latihan yang berguna dimana konselor memiliki akses terhadap kelompok. Latihan ini dapat dilakukan dengan cepat dan membantu dalam mengumpulkan informasi yang berguna.
d. Dyad dan Triad
Dyad Merupakan aktivitas di mana anggotanya dipasangkan dengan satu sama lain untuk mendiskusikan persoalan-persoalan atau untuk menyelesaikan suatu tugas. Triad adalah aktifitas di mana anggotanya di bagi menjadi kelompom berjumlah ganjil. Pada umumnya dyad dan triad sangat berguna karena memberikan kesempatan bagi anggota untuk memiliki kontak yang lebih personal dengan satu sama lain, mengemukakan ide, dan mevariasikan format kelompok.



e. Creative Props
Latihan ini menggunakan berbagai macam perlahan secara kreatif. Peralatan konseling yang berbeda dapat digunakan dalam latihan kelompok yang menarik dan memikat (jacobs, 1992)
f. Arts dan Crafts
Latihan ini membiarkan ekspresikan dalam berbagai cara berbeda seperti melukis, mewarnai, memotong, mengecat, dll. Tujuan latihan untuk menciptakan sesuatu dari berbagai bahan, menciptakan energi, mendatangkan kesenangan, memunculkan minat dan mengembangkan diskusi.
g. Fantasi
Latihan untuk pengembangan dan terapi kelompok, memberdayakan imajinasi dan penggambaran visual anggota kelompok. Fantasi membantu anggota agar menjadi lebih sadar akan perasaan, harapan, keraguan dan ketakutan mereka.
h. Bacaan umum
Latihan ini mensyaratkan peserta untuk membaca cerita pendek, puisi atau dongeng. Tujuan nya untuk pengembangan ide dan pemikiran serta memperdalam fokus terhadap beberapa topik atau isu.
i. Umpan balik
Latihan umpan balik memungkinkan peserta konselor berbagai perasaan dan pemikiran mereka tentang satu sama lain.
j. Kepercayaan (trust)
Latihan yang bertujuan untuk mefokuskan perhatian kelompok terhadap isu-isu mengenai rasa percaya khususnya untuk mempercayai orang lain.


k. Experiental
Latiahan yang di desain untuk membawa individu dan kelompok melampui pengharapan mereka ataupun meyakini keinginan mereka untuk mencoba (project adventer, 1992). Aktifitas ini dilakukan di luar ruangan dengan menggunakan rangkaian yang didesain secara hati-hati dan terbuat dari jalinan tali temali dengan tujuan pembentukan tim (team building).
l. Dilema moral
Latihan yang diberikan cerita kepada peserta dan memutuskan bagaimana peserta menangani situasi dalam cerita itu. Latihan ini berguna dalam membantu anggota kelompok menyadari bahwa setiap individu memiliki nilai-nilai berbeda.
m. Keputusan kelompok
Merupakan Aktivitas pembuatan keputusan kelompok. Latihan ini mensyaratkan para anggota kelompok untuk bekerja sama dalam menangani suatu masalah. Dan bisa dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok kecil tergantung jumlah kelompok.
n. Sentuhan (touching)
Latihan yang menggunakan aktivitas sentuhan. Petunjuk yang harus dipertimbangan saat akan melakukannya :
a. Sadarilah bahwa beberapa peserta mungkin akan merasa tidak nyaman dengan kontak fisik. Jika suatu latihan melibatkan beberapa bentuk sentuhan, pastikan bahwa peserta memahami apa yang akan terjadi dan mengijinkan siapa saja yang bersedia untuk melakukan latihan ini.
b. Dalam hampir setiap situasi, yang terbaik adalah dengan mencegah penggunaan sentuhan yang memiliki konotasi seksual. Beberapa latihan pijat, bisa diinterpretasikan secara seksual jika tidak dilakukan dengan sepantasnya. 

jangan lupa!!! anda bisa membaca makalah filsafat pendidikan

Makalah Filsafat Pendidikan

Diposting oleh Suka Suka Saya di 06.54 0 komentar
filsafat adalah pengertian-pengertian tentang kehidupan. yang dimana selalu ada dalam kehidupan kita dan ada dalam semua ilmu. salah satunya adalah ilmu pendidikan. yang menjadi sebuah ilmu yaitu filsafat pendidikan. seperti makalah filsafat pendidikan.

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berbicara tentang filsafat, kita harustahu terlebih dahulu apa arti filsafat itu sendiri. Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa yunani philoshophia yang banyak diperoleh pengertian-pengertian, baik secara harfiah atau etimologi. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, gemar, suka dan kata Sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. Filsafat menurut arti katanyadapat diartikan sebagai cinta, cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Didalam filsafat pendidikan, akan kita jumpai berbagai macam hal yang baru yang tentunyaakan menambah wawasan keilmuaan kita. Pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat pendidikan ialah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan ,memadukan proses pendidikan. Artinya bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilainilai dan maklumat-maklumat. Yang dipercayakan untuk mencapainya. Dan didalam makalah yang singkat ini akan diterangkan tentang pengertian filsafat pendidikan, ruang lingkup filsafat pendixikan dan hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan.




B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang di tulis di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Jelaskan pengertian filsafat pendidikan?
2. Jelaskan ruang lingkup filsafat pendidikan?
3. Jelaskan hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan?
C. TUJUAN
Berdasarkan rumusaan masalah yang di paparkan di atas, maka penulis mempunyai tujuan yang inggin di capai dalam penulisan makalah ini, antara lain:
1. Memahami arti filsafat pendidikan
2. Memahami ruang lingkup filsafat pendidikan
3. Memahami hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian filsafat pendidikan
Filsafat adalah suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dan Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan atau pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Menurut Al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan ,memadukan proses pendidikan. Filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusiaan merupakan factor integral atau satu kesatuan. Filsafat pendidikan yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Karenanya, dengan bersifat filosofis, bermakna bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisa filosofis terhadap bidang pendidikan. Oleh karena bersifat filosofis dengan sendirinya filsafat pendidikan pada hakekatnya penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan. Sebagai contoh, dapat di kemukakan bahwa filsafat mengadakan pembahasan soal, aku dan tujuan, yang perlu menjadi perhatian pendidikan sebelum ai Terjun-aktif-dalam prosesnya. Pandangan filsafat karena manusia (individu) adalah sesuatu hal yang lain daripada yang lain, dapat menjadi landasan pandangan mengenai hakekat anak didik. Berarti pandangan mengenai bentuk kesungguhan mengenai manusia dapat menjelma menjadi pandangan pendidik mengenai anak-didik.
B. Ruang lingkup bahasan filsafat pendidikan
Ruang lingkup filsafat bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencangkup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, temasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa sekarang maupum masa mendatang. Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
a. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
b. Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).
c. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
d. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
e. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
f. Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian dari uraian tersebut diproleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.
Ruang lingkup filsafat pendidikan dilihat dari beberapa segi antara lain:
a. Realita, ialah mengenai kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada masalah kebenaran. Kebenaran akan timbul bila orang telah dapat menarik kesimpulan bahwa pengetahuan yang di miliki ini telah nyata. Realita atau kenyataan ini di pelajari ileh metafisika.
b. Pengetahuan, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan itu, dan jenis-jenis pengetahuan. Pengetahuan dipelajari oleh epistemology.
c. Nilai, yang di pelajari oleh cabang filsafat yang di sebut aksiologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabnya antara lain adalah seperti : nilai-nilai yang bagaimanakah yang dikehendaki oleh manusia dan yang dapat digunakan sebagai dasar hidupnya.
C. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan
Pada awalnya pendidikan berjalan dengan filsafat karena filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Hubungan antara filsafat dan ilmu pendidikan ini tidak ke-insidental, melainkan suatu keharusan. Karena filsafat itu adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Filsafat juga didefinisikan sebagai pelaksana pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat mempunyai hubungan timbal balik dengan pendidikan. Oleh karena itu hubungan filsafat dan filsafat pendidikan satu kesatuan yang melengkapi. John S Brubacher, guru besar filsafat di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa filsafat dan pendidikan itu mempunyai hubungan yang erat satu sama lain karena problema-problema tersebut berada dalam lingkungan dua disiplin. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena keduanya disiplin tersebut menghadapi problem-problem filsafat secara bersama-sama. Oleh karena masalah-masalah semacam ini ada selam pendidikan itu sendiri ada dan berkembang, maka sebagai ilmu, filsafat pendidikan berkembang dinamis dan secara intelektual menggembirakan.
PETA KONSEP
HUBUNGAN FILSAFAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN ERAT
SALING MELENGKAPI

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan adalah ilmu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pendidikan. Ruang lingkup filsafat pendidikan di lihat dari segi realita, nilai dan pengetahuan. Yang dimana setiap aliran di lihat dari sisi-sisi ini. Bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan. Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan erat yang dimana saat pendidikan ada maka filsafat ada dan adanya filsafat pendidikan.

baca juga artikel kami makalah konseling komunitas

makalah konseling komunitas

Diposting oleh Suka Suka Saya di 06.30 1 komentar
makalah adalah tugas yang selalu kita kerjakan. banyak yang bingung untuk mencari tugas buat makalah mereka. salah satu makalah yang bisa untuk dibaca adalah makalah konseling komunitas. untuk mencari makalah konseling komunitas, anda bisa membaca contoh ini.

Konseling Trauma


A. Pengertian konseling Traumatis
Konseling merupakan bantuan yg bersifat terapeutis yg diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli, dilaksanakan face to face antara konseli dan konselor, melalui teknik wawancara dengan konseli sehingga dapat terentaskan permasalahan yang dialaminya.
Trauma adalah suatu kondisi emosional yang berkembang setelah suatu peristiwa trauma yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan dan menjengkelkan, seperti peristiwa : Pemerkosaan, pertempuran, kekerasan fisik, kecelakaan, bencana alam dan peristiwa-peristiwa tertentu yang membuat batin tertekan, misalnya konseli(siswa) yang tidak lulus Ujian Nasional
Trauma psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang menekan yang menyebabkan rasa tidak berdaya dan dirasakan mengancam. Reaksi umum terhadap kejadian dan pengalaman yg traumatis adalah berusaha menghalaukannya dari kesadaran,namun bayangan kejadian itu tidak bisa dikubur dalam memori.
Seiring dengan kejadian tersebut konselor sebagai pendidik pada jalur formal yg bertugas melakukan bimbingan dan konseling di Sekolah bertanggung jawab untuk dapat membantu peserta didik/masyarakat/individu yg mengalami peristiwa trauma sehingga dapat keluar dari peristiwa trauma.
Konseling trauma yaitu konseling yang diselenggarakan dalam rangka membantu konseli yang mengalami peristiwa traumatik,agar konseli dapat keluar dari peristiwa traumatik yang pernah dialaminya dan dapat mengambil hikmah dari peristiwa trauma tersebut.
Konseling trauma merupakan kebutuhan mendesak untuk membantu para korban mengatasi beban psikologis yang diderita akibat bencana gempa dan Tsunami. Guncangan psikologis yang dahsyat akibat kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan sanak keluarga, dan kehilangan pekerjaan, bisa memengaruhi kestabilan emosi para korban gempa. Mereka yang tidak kuat mentalnya dan tidak tabah dalam menghadapi petaka, bisa mengalami guncangan jiwa yang dahsyat dan berujung pada stres berat yang sewaktu-waktu bisa menjadikan mereka lupa ingatan atau gila.
Konseling trauma dapat membantu para korban bencana menata kestabilan emosinya sehingga mereka bisa menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya meskipun dalam kondisi yang sulit. Konseling trauma juga sangat bermanfaat untuk membantu para korban untuk lebih mampu mengelola emosinya secara benar dan berpikir realistik.
B. Target dan Metode
Layanan konseling trauma pada prinsipnya dibutuhkan oleh semua korban selamat yang mengalami stres dan depresi berat, baik itu orang tua maupun anak-anak. Anak-anak perlu dibantu untuk bisa menatap masa depan dan membangun harapan baru dengan kondisi yang baru pula. Bagi orang tua, layanan konseling trauma diharapkan dapat membantu mereka memahami dan menerima kenyataan hidup saat ini; untuk selanjutnya mampu "melupakan" semua tragedi dan memulai kehidupan baru.
Di samping untuk menstabilkan kondisi emosional, layanan konseling trauma bagi orang tua idealnya juga memberikan keterampilan yang dapat dijadikan modal awal memulai kehidupan baru dengan pekerjaan-pekerjaan baru sesuai kapasitas yang dimiliki dan daya dukung lingkungan. Dengan demikian, mereka bisa sesegera mungkin menjalani hidup secara mandiri sehingga tidak terus-menerus menyandarkan pada donasi pihak lain.
Untuk mencapai efektivitas layanan, maka konseling trauma dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yakni yang bersifat individual, khususnya untuk korban yang tingkat stres dan depresinya berat, sementara itu bagi mereka yang beban psikologisnya masih pada derajat sedang, dapat dilakukan dengan pendekatan kelompok.
Layanan konseling kelompok akan menjadi lebih efektif bila mereka juga difasilitasi untuk membentuk forum di antara sesama korban bencana. Lewat forum-forum yang mereka bentuk secara swadaya itulah nantinya mereka menemukan "keluarga baru" yang bisa dijadikan tempat untuk saling membantu keluar dari kesulitan yang memilukan.
Menyembuhkan luka psikologis memang butuh waktu yang panjang dengan serangkaian proses psikologis yang konsisten. Oleh karena itu, seyogianya pemerintah sesegera mungkin menerjunkan relawan yang bertugas memberikan layanan konseling trauma. Seiring dengan semakin lancarnya bantuan logistik, layanan konseling seharusnya sudah mulai diberikan. Memang bisa dipahami adanya kesulitan pemerintah untuk menurunkan tim konseling trauma karena tidak mudah mencari relawan yang memiliki basis ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang ini. Tapi bagaimanapun, layanan konseling trauma harus bisa diwujudkan untuk membantu para korban bencana. Perlu dicatat bahwa manusia tidak hidup hanya dengan makan dan minum saja, melainkan butuh sentuhan psikologis yang mampu menyalakan api kehidupan dalam dirinya. Pemerintah, lewat layanan konseling trauma, juga diharapkan memfasilitasi terwujudnya pengembangan komunitas di daerah bencana yang bisa menjadi forum silaturahmi antarwarga korban gempa. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka rekonstruksi Aceh akan lebih cepat berhasil dan warga korban bencana mampu membangun ketahanan sosial atas prakarsa sendiri.
C. Menangani Trauma
Penyebab trauma adalah peristiwa yang sangat menekan, terjadi secara tiba-tiba dan diluar kontrol seseorang, bahkan seringkali membahayakan kehidupan atau mengancam Jiwa. Kekerasan bisa menimbulkan trauma. Tak hanya fisik saja yang luka tapi juga psikis, rasa ketakutan dan terancam jiwanya, itu yang sulit disembuhkan. Trauma tak memandang usia. Anak kecil, remaja, maupun orang dewasa bisa mengalami trauma. Bedanya pada anak kecil, ia belum bisa memahami apa yang menimpa dirinya, dan trauma itu baru muncul setelah si anak dewasa. Trauma yang muncul setelah dewasa bisa mengakibatkan perubahan kepribadian, ia bisa menjadi orang yang pendendam dan kemungkinan menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari. Menghadapi trauma dengan cara melupakan, bukan sebuah penyelesaian yang baik. “Pengaruhnya justru ke dalam diri korban, bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan yang lain, seperti depresi, schizofrenia (kepribadian ganda), dan sebagainya,” ungkap Livia. Oleh karena itu, trauma penting sekali untuk segera ditangani.
Peran konselor yang dapat dilakukan segera adalah :
1. Meredakan perasaan-perasaan (cemas/ gagal/ bodoh/ putus asa/ tidak berguna/ malu/ tidak mampu/ rasa bersalah) dengan menunjukkan sikap menerima situasi krisis, menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri serta tanggungjawab terhadap diri konseli (mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (situasi krisis).
2. Agar konseli dapat menerima kesedihan secara wajar.
3. Memberikan intervensi langsung dalam upaya mengatasi situasi krisis.
4. Memberikan dukungan kadar tinggi kepada konseli

D. TEKNIK KONSELING TRAUMA
STRATEGI KONSELING TRAUMA antara lain dengan :
1. KONSELING DIREKTIF ( COUNSELOR CENTERED )
ALASAN :
a. Konseli (peserta didik) tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalahnya sendiri, sehingga perlu bantuan orang lain yang lebih berpengalaman (konselor).
b. Meskipun telah diberi layanan BK sebelum pelaksanaan ujian tentang apa yang dapat dilakukan pra dan pasca ujian nasional, konseli tidak mau menerima tanggung jawab untuk membuat keputusan sendiri.
c. Beberapa masalah terasa terlalu berat untuk dipecahkan sendiri (konseli) tanpa bantuan seorang ahli (konselor).

LANGKAH-LANGKAH
a. ANALISIS
Mengumpulkan data tentang diri konseli :
b. SINTESIS
Pemilihan terhadap data yang tersedia, mana yang tidak berguna dan mana yang berguna untuk mendukung pemecahan masalah yang dihadapi
c. DIAGNOSIS
Menyimpulkan masalahyang dihadapi beserta sebab-sebabnya.
d. PROGNOSIS
Memprediksi keberhasilan konseli dari kegiatan selama konseling.
e. TREATMENT
• Menciptakan hubungan yang baik (dekat, terbuka, suka rela) antara konselor dan konseli (peserta didik).
• Menafsir data tentang konseli yang ada.
• Merencanakan kegiatan yang dilakukan konseli,
• Membantu konseli/ peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan.
f. FOLLOW UP
Langkah menentukan efektif tidaknya usaha konseling yang telah dilakukan.
2. Peranan Konselor pada proses Konseling
Menurut TRE peran konselor adalah sebagai berikut.
1. konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal.
2. mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.
3. menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan
4. memperbaiki cara berfikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri. dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide
5. irasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien.
6. menyerukan klien menggunakan kemampuan rasional (rational power) dari pada emosinya.
7. menggunakan pendekatan didaktik dan filosofis.
8. menggunakan humor dan menggojlok sebagai jalan mengkonfrontasikan berfikir secara irasional
 

Suka suka Saya Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei